Friday, November 20, 2015

Psikologi Manajemen: Majid Travel Agency

Posted by irna at 4:50 AM 0 comments
Nama perusahaan : Majid Travel Agency
Alamat                    : Riyad, Arab Saudi
Bidang Usaha         : Travel
Berdiri sejak          :  2012
Jumlah karyawan : 12 Karyawan
Cabang                   :  Empat Cabang

Majid Travel Agency merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa travel. Dalam segi planning, perusahaan tersebut sudah mempunyai visi dan misi yang membuat maju perusahaannya. Visinya adalah ingin menjadi yang terbaik dan misinya adalah ingin mencoba memperluas bidang perusahan di segala cabang, tidak hanya di Saudi. Pertama kali membuka bisnis travel tersebut, mereka mempunya dana sebanyak tiga miliar, biaya tersebut digunakan untuk asuransi perusahaan, membeli keperluan furniture dan lain lain, lalu sekitar 100-150 juta untuk membeli lima belas unit computer dan furniture untuk empat cabang,  Perusahaan melakukan Man Power Planning dengan cara mengontrol karyawan di setiap cabang dengan brand managernya masing-masing. Mereka yang mengatur semua karyawan di setiap brandnya. Usaha perusahaan tersebut untuk mengembangkan bisnisnya dalam tiga sampai lima tahun ke depan adalah dengan memperluas cabang perusahaan tidak hanya di Saudi, tetapi  juga di negara lain seperti di Malaysia, Indonesia, dan Thailand.
Kemudian dalam segi organizing, menurut narasumber yang kami wawancara, struktur organisasi perusahaan yang digunakan sudah efektif, karena sudah terlihat hasilnya seperti perusahaan tersebut awalnya hanya buka satu cabang namun setiap tahunnya dapat membuka satu cabang lagi hingga tiga tahun ke depan. Salah satu pekerjaan yang ada di dalam struktur organisasi tersebut adalah manajer. Pekerjaan mereka adalah untuk mengontrol, menolong karyawan, serta melayani customer. Dalam melakukan pemetaan karyawan, perusahaan melakukan percobaan kerja pada calon karyawan lulusan D3 selama tiga bulan. Jika calon karyawan tersebut memimiliki kinerja yang bagus, maka akan dijadikan karyawan tetap. Kemudian bagi lulusan S1 akan dimasukan ke kantor pusat.
Selain itu dalam segi actuating, perusahaan mengaplikasikan visi dan misinya dengan cara mengontrol karyawan di setiap cabangnya yang dilakukan oleh brand manajer. Cara menilai kinerja karyawannya dilihat dari bagaimana kemampuan seorang karyawan dalam melayani customer, seperti wajah yang tersenyum, tutur kata bahasa yang sopan, serta berperilaku jujur. Jika dalam implementasinya terjadi kesalahan maka karyawan yang melakukan hal tersebut selama tiga kali akan ditegur,  tetapi jika diulangi lagi di kemuadian hari, maka karyawan tersebut akan dipecat. Tetapi selama dalam tiga tahun perusahaan tersebut beroperasi, menurut narasumber, belum ada kejadian yang seperti itu dan semuanya baik-baik saja.
Dalam segi controlling, travel agency tersebut merupakan perusahaan gabungan, yang mengontrol semua adalah perusahaan, yang orang kedua partnernya mereka hanya memberi nama untuk travelnya. Jadi nama majid dari majid travel adalah nama sumbangan dari partnernya tersebut. Perusahaan setiap tahun selalu menyediakan 1000-5000ribu kertas yang dipesan dari percetakan dan disediakan kertas yang berlogo perusahaan tersebut. Di setiap kantor selalu ada kertas dari percetakan, karena perusahaan tidak mempunyai gudang untuk menyimpan stok kertasnya. Tidak ada pengelolahan untuk ketersediaan bahan baku karena perusahaan tersebut bergerak di bidang jasa travel.  Selain itu tidak ada cara bagaimana mengelola infrastruktur kantor agar lebih efisien.

Monday, March 30, 2015

Kesehatan Mental

Posted by irna at 1:44 AM 0 comments
Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.

Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.

Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.

Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa sembuh.

Di dalam bukunya A Mind That Found Itself, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
2. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
3. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
4. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.

William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar Mental Hygiene dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya. 

Konsep Sehat berdasarkan Emosi, Intelektual, Sosial Fisik, dan Spiritual


Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Dan menurut White (1977), sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
WHO pun mengembangkan defenisi tentang sehat. Pada sebuah publikasi WHO tahun 1957, konsep sehat didefenisikan sebagai suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki. Sementara konsep WHO tahun 1974, menyebutkan Sehat adalah keadaan sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam musyawarah Nasional Ulama tahun 1983 merumuskan kesehatan sebagai ketahanan “jasmaniah, ruhaniyah dan sosial” yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan tuntunannya, dan memelihara serta mengembangkannya.
Menurut Dian Mohammad Anwar dari Foskos Kesweis (Forum Komunikasi dan Studi Kesehatan Jiwa Islami Indonesia), pengertian kesehatan dalam Islam lebih merujuk kepada pengertian yang terkandung dalam kata afiat. Konsep Sehat dan Afiat itu mempunyai makna yang berbeda kendati tak jarang hanya disebut dengan salah satunya, karena masing-masing kata tersebut dapat mewakili makna yang terkandung dalam kata yang tidak disebut. Dalam kamus bahasa arab sehat diartikan sebagai keadaan baik bagi segenap anggota badan dan afiat diartikan sebagai perlindungan Allah SWT untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipudaya.
Kesehatan bersifat menyeluruh dan mengandung empat aspek. Perwujudan dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain sebagai berikut :
1. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan .
2. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan Spiritual :
• Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
• Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya,hal yang begitu saja terjadi dalam hidup kita. Misalnya bila kita mepunyai perasaan marah, takut, sedih, senang, benci cinta, antusias, bosan dll sebagai akibat dari peristiwa yang terjadi pada kita.Munurut Daniel Golemen, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
• Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan – aturan agama yang dianutnya .
3.Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial,ekonomi,politik dan sebagainya serta saling toleran dan menghargai . Kesehatan sosial adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain di lingkungan sekitarnya, sehingga mampu untuk hidup bersama dengan masyarakat lingkungannya.
4. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.
5.Kesehatan intelektual adalah suatu dimana seseorang mampu mengendalikan kecerdasannya untuk berfikir, berfikir baik maupun buruk. kesehatan intelektual sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, ataupun memecahkan problem yang di hadapi.
6. Kesehatan fisik adalah suatu keadaan dimana bentuk fisik dan fungsinya tidak ada gangguan sehingga memungkinkan perkembangan psikologi dan sosial dpat melakukan kegiatan sehari -hari dalam kondisi yang baik atau optimal.Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, social, dan ekonomi)dalam mempertahankan kesehatannya.

Konsep-konsep kesehatan dikembangkan berdasarkan :
- Dimensi Emosional
Menurut Goleman emosional merupakan hasil campur dari rasa takut, gelisah, marah, sedih dan senang.
- Dimensi Intelektual
Memecahkan masalah dengan pikiran yang tenang, yang dapat memecahkan masalah tersebut. Misalnya ,berhenti sejenak dan memijit pada bagian kaki yang keseleo saat bermain futsal.
- Dimensi Fisik
Suatu kondisi tubuh yang di haruskan dengan kondisi tubuh sehat.
- Dimensi Sosial
Seseorang dapat melakukan perannya dalam lingkup yang lebih besar dan dapat berinteraksi dengan baik
- Dimensi Spiritual
Spiritual merupakan kehidupan kerohanian. Dengan menyerahkan diri dengan bersujud dengan kepercayaan agama masing-masing. Misalnya , ketika di diagnosa menderita penyakit kronis , adakalanya selalu memohon dan meminta kesembuhan kepada Allah swt.

Monday, March 16, 2015

Generalized Anxiety Disorder

Posted by irna at 8:54 PM 0 comments
Kasus

Irene adalah seorang mahasiswa berusia 20 tahun dengan kepribadian yang dikenal baik namun tidak memiliki banyak teman. ia datang ke klinik mengeluhkan kegelisahannya yang berlebihan dan kesulitan dan mengendalikan dirinya. segalanya terlihat sebagai suatu bencana bagi Irene. Walaupun ia memiliki prestasi akademik dengan angka 3,7 ia selalu merasa khawatir bahwa ia akan gagal dalam ujian. Sehingga sebagai bentuk ketakutannya ia selalu mengulang materi yang telah ia pelajari berkali-kali, karena ia khawatir suatu saat ia akan lupa dan tidak mengerti dengan materi tersebut.
Irene tidak hanya khawatir dengan sekolahnya. ia juga khawatir tentang hubungan nya dengan pasangannya. Dimanapun saat ia berada dengan kekasihnya, ia merasa cemas dan takut berbuat suatu hal yang bodoh dan membuat ketertarikan pasangnnya hilang padanya.


Irene juga memperhatikan masalah kesehatannya. ia memiliki penyakit hipertensi minor, mungkin hal ini karena badannya yang agak terlalu gemuk. Hal ini membuat Irene melihat daging seperti sebagai suatu ancaman kematian yang tidak boleh dimakan. ia enggan untuk mengukur tekanan darahnya karena ia takut akan hasilnya yang menurutnya pasti sangat tinggi dan ia tidak menurunkan berat badannya. Irene membatasi porsi makannya dengan sungguh-sungguh, sehingga ia juga pernah berperilaku binge eating (dengan sengaja memuntahkan makanan yang telah dimakan). Irene juga terkadang mengalami serangan panik tiba-tiba, namun ini bukan hal yag utama yang terlihat dari dirinya. Irene juga sering cemas akan kemungkinsn terjadinya suatu musibah atau bencana alam.

Teori Psikoanalisis



Frued membagi struktur kepribadian kedalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego. Perilaku seseorang merupakan hasil dari interaksi antara ketiga komponen tersebut.

1. Id (Das Es)

Id berisikan motifasi dan energy positif dasar, yang sering disebut insting atau stimulus. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi ketegangan, yang merupak sumber dari dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, dll) Prinsip kesenangan merujuk pada pencapaian kepuasan yang segera, dan id orientasinya bersifat fantasi (maya). Untuk memperoleh kesengan id menempuh dua cara yaitu melalui reflex dan proses primer, proses primer yaitu dalam mengurangi ketegangan dengan berkhayal.

2. Ego (Das Ich)

Peran utama dari ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang menjembatani anatar id dengan kondisi lingkungan atau dunia luar dan berorintasi pada prinsip realita (reality principle). Dalam mencapai kepuasan ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistic dan berfikir rasional. Dalam proses disebelumnya yaitu proses primer hanya membawanya pada suatu titik, dimana ia mendapat gambaran dari benda yang akan memuaskan keinginannya, langkah selanjutnya adalah mewujudkan apa yang ada di das es dan langkah ini melalui proses sekunder. Dalam upaya memuaskan dorongan, ego sering bersifat prakmatis, kurang memperhatikan nilai/norma, atau bersifat hedonis.

Hal yang perlu diperhatikan dari ego adalah :

> Ego merupakan bagian dari id yang kehadirannya bertugas untuk memuaskan kebutuhan id.
> Seluruh energy (daya) ego berasal dari id
> Peran utama memenuhi kebutuhan id dan lingkungan sekitar
> Ego bertujuan untuk mempertahankan kehidupan individu dan pengembanbiakannya.

3. Super Ego (Das Uber Ich)
Super ego merupak cabang dari moril atau keadilan dari kepridadian, yang mewakili alam ideal daripada alam nyata serta menuju kearah yang sempurna yang merupakan komponen kepribadian terkait dengan sytandar atau norma masyarakat mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Dengan terbentukny super ego berarti pada diri individu telah terbentuk kemampuan untuk mengontrl dirinya sendiri (self control) menggantikan control dari orang tua (out control). Fungsi super ego adalah sebagai berikut :
> Merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan seksual dan agresif
> Mendorong ego untuk mengantikan tujuan-tujuan relistik dengan tujuan-tujuan moralistic.
> Mengejar kesempurnaan. (perfection)

Analisa

Kasus yang dialami Irene diatas merupakan salah satu contoh kasus dari Generalized Anxiety Disorder (GAD). Penderita generalized anxiety disorder menganggap kekhawatiran mereka sebagai sesuatu yang tidak dapat dikendalikan (Ruscio, Borkovek, & Ruscio, 2001). Usaha mereka untuk mengendalikan kecemasan biasanya gagal dan biasanya menderita sejumlah simptom baik fisik maupun psikologis yang mempengaruhi aspek sosial, pekerjaan dan fungsi kehidupan secara umum. Mereka mudah merasa sering tidak berdaya dan sering berada dalam situasi tertekan dan suli berkonsentrasi. Sering merasakan ketegangan yang sangat besar yang membuat mereka tidak dapat berfikir, pada mala harinya sulit untuk tidur, atau sulit untuk tetap tidur atau meskipun tidur, tidak merasakan kepuasan dari tidurnya. Pada siang hari mereka merasa kelelahan, mudah marah dan tegang. Kekhawatiran seorang dengan generalized anxiety disorder dapat dialami selama bertahun-tahun. Pada kenyataannya individu dengan gangguan ini menyatakan mereka tidak pernah tidak merasakan ketegangan dan kecemasan setiap harinya. Dan orang lain cendrung melihat mereka sebagai individu yang pesimis.

Kekhawatiran yang paling sering dirasakan adalah mengenai kesehatan mereka dan masalah sehari-hari, seperti terlambat menghadiri pertemuan atau terlalu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Ketikan gangguan ini terjadi pada anak-anak ketakukan dan kecemasan yang mereka rasakan biasanya berhubungan dengan prestasi di sekolah. Gangguan ini memengaruhi 8,3% dari populasi dan biasanya terjadi pada wanita (Kendler.dkk,..2005). pada populasi yang lebih umum. Rasio jenis kelamin, kira-kira dua pertiganya adalah wanita; pada kondisi klinis, 55 hingga 60 persen klien yang mendapatkan diagnosis dengan kondisi ini adalah wanita (APA, 2000). Sebgianbesar terjadi pada individu yang berusia masih sangat muda, tetapi peristiwa yang menimbulkan stress ketika individu berada pada masa dewasa dapat menyebabkan munculnya simptom ini.

Karakteristik Generalized Anxiety Disorder DSM –IV – TR :
a. Mengalami kecemasan yang berlebihan dan perasaan cemas yang sering muncul selama enam bulan. mempemgaruhi berbagai aktivitas atau situasi seperti sekolah atau pekerjaan.
b. Kekhawatiran, kecemasan dan simptom fisik lainnya yang berhubungan menyebabkan stress yang signifikan atau ketidakmampuan
c. Merasa kesulitan dalam mengendalikan perasaan cemas
d. Kecemasan dan kekhawatiran mereka diasumsikan sekurang-kurangnya dengan tiga hal berikut :
i. Gelisah
ii. Mudah merasa lelah
iii. Sulit berkonsentrasi
iv. Mudah marah
v. Otot yang tegang
vi. Gangguan tidur
e. Fokus kecemasan dan kegelisahannya tidak termasuk dalam fokus yang diutamakan pada pada Axis I; kegelisahan dan kecemasannya bukan mengenai serangan panik (panic disorder), malu dengan masyarakat (seperti school phobia), tidak termasuk dalam obsessivec ompulsive disorder, tidak terfokus pada menjauh dari keluarga atau kerabat lain seperti pada separation anxiety disorder, tidak terfokus pada berat badan seperti anorexia nervosa atau bulimia nervosa atau memiliki penyakit serius seperti pada hypochondriasis, and bukan termasuk dalam posttraumatic stress disorder (PTSD) .
Teori Psikoanalisis berpendapat bahwa sumber gangguan kecemasan menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder) adalah konflik yang tidak disadari antara ego dan impuls-impuls id. Impuls-impuls tersebut biasanya bersifat seksual atau agresif, berusaha untuk mengekpresikan diri namun ego tidak membiarkannya, karena tanpa disadari merasa takut terhadap hukuman yang akan diterima. Sumber kecemasan yang sebenarnya yaitu hasrat-hasrat yang berhubungan dengan impuls-impuls id yang selalu berusaha untuk mengekpresikan diri. Namun tidak ada pengalihan dari hasrat-hasrat tersebut melalui suatu objek atau situasi, sehingga tidak adanya suatu pertahanan dan hal ini menyebabkan seorang yang menderita generalized anxiety disorder selalu merasa cemas.

Sumber:
https://psikologiabnormal.wikispaces.com/Generalized+Anxiety+Disorder
https://bkpemula.wordpress.com/2012/01/31/teori-kepribadian-psikoanalisis-sigmun-freud/

 

me and ordinary things Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos